Saya bukan S1, bukan sarjana, saya pernah kuliah, namun saya nggak selesaikan. Alasannya? Karena saya ambil kuliah malam dan dosennya jarang datang, ditambah lagi karena saya siangnya bisnis dan sudah merasakan hasil yang lumayan besar.
Akhirnya saya merasa kenapa saya harus meneruskan kuliah sementara berbagai ilmu praktis saya bisa dapatkan dari buku buku self improvement, motivasi, kesehatan praktis, investasi praktis, dan 101 bidang lainnya.
Sebenarnya alasan diatas bukan alasan yang sebenarnya, alasan sebenarnya adalah karena saya merasa saya bisa mencari uang dan bisa mendapatkan ilmu praktis mengenai apapun yang saya ingin perdalam dari buku atau kursus atau seminar.
Saya tahu, tidak semua dari anda pembaca setuju dengan tulisan diatas. Dan saya tidak menyalahkan anda. Bahkan saya sangat setuju.
Waktu itu saya berpikir bahwa jika saya akan lanjut Kuliah maka saya harus sekalian saja kuliah di Luar Negeri, atau paling tidak kuliah di perguruan tinggi yang benar benar berkualitas tinggi. Sementara tempat saya drop out dulu kualitasnya biasa saja bahkan terkenal karena dosen nya jarang datang.
Bisa dikatakan saya cukup kutu buku, saya membaca banyak buku-buku motivasi dan beberapa tahun terakhir banyak membaca buku buku yang berkaitan dengan internet marketing.
Dari apa yang saya baca dari banyak kisah sukses, saya yakin bahwa gelar itu juga penting, walau sebagian juga mengatakan bahwa gelar tidak harus. Tentu ada yang setuju dan banyak juga yang tidak. Namun yang saya ingin tekankan adalah: Budaya atau pengalaman selama Kuliah itu menurut saya lebih penting. Seperti yang dikatakan oleh Merry Riana di bukunya A Gift from A Friend ( ini kutipan nya ):
” Bagi saya, memiliki pendidikan formal adalah suatu kelebihan. Meskipun bukan suatu keharusan untuk menuju sukses, pendidikan formal akan tetap menjadi suatu kelebihan dalam jangka panjang. Apa yang anda pelajari mungkin tidak penting, tetapi waktu yang anda lalui dalam pendidikan formal tersebut akan mendukung anda dalam berbagai cara di perjalanan kewirausahaan anda. ”
Ditambahkan oleh Merry:
” Jadi, untuk anda semua yang masih sedang belajar, jangan mengabaikan pendidikan anda. Selesaikan pendidikan Anda dan hanyalah berkonsentrasi penuh pada perjalananan kewirausahaan, setelah anda menyelesaikan pendidikan anda. Percayalah, Anda tidak akan menyesal! ”
Saya sangat setuju dengan perkataan Merry diatas. Pengalaman Merry kuliah di Singapore, tentu teramat menyenangkan seperti yang dikatakan nya, ” Setelah mempelajari tehnik selama 4 tahun, saya terbantu untuk berpikir dengan lebih logis dan menjadi orang yang sistematis. ”
Terlebih Merry dapat belajar banyak dan mempraktekkan bahasa Inggrisnya selama di Singapore.
Itu masukan bagus bagi teman teman yang ingin melanjutkan kuliah, sedang akan mau kuliah atau sedang memutuskan untuk kuliah diluar. Jika kesempatan dan waktunya ada, kemauan dan kemampuan juga menunjang: perjuangkan lah untuk mengambil kuliah di tempat terbaik, di perguruan yang berkualitas sekalipun itu harus tinggal diluar negeri.
Tantangan dan pelajaran yang akan anda dapatkan sungguh tak ternilai harganya.
Namun untuk yang nggak sempat, tidak ada biaya, atau terlanjur DO dari kuliahnya seperti saya? menurut saya, kemauan untuk terus belajar yang anda miliki, untuk terus improve dan belajar baik dari orang yang sudah sukses, dari seminar maupun buku, adalah hal terbaik yang bisa anda lakukan dan miliki.
Banyak buku yang menulis: bahwa kebanyakan orang di dunia ini, merasa sudah cukup banyak tahu dan cukup belajar ketika mereka sudah keluar dari perguruan tinggi. Mereka tidak lagi improve dan terus belajar. What a pity?
Sebaliknya, dari orang orang yang tidak beruntung untuk lanjut sekolah tinggi, banyak dari mereka yang belajar otodidak dengan gigih dan maju terus untuk menjadi pengusaha pengusaha sukses di dunia. Kuncinya? Kuliah atau tidak, kemauan untuk terus belajar, untuk terus berubah dan terbuka itu harus ada.
Thanks buat Jasmine teman baru saya yang mengingatkan saya bahwa jika mungkin, dia akan memilih pasangan hidup yang S1, darisana saya mengerti sesuatu yang akhirnya saya tuliskan berupa postingan ini. Bagaimana menurut teman teman sekalian? silahkan post comment anda dan saya akan dengan senang membaca dan menanggapinya.





Dear Kus,
Tidak semua orang beruntung bisa kuliah dan menyelesaikan S1. Banyak yg putus sekolah dan bisa tetap sukses, seperti Albert Einstein. Dia di-DO o/ gurunya karena dianggap bodoh, terlalu banyak bertanya. Apa jadinya dia setelah dewasa? Dia menjadi salah satu penemu terbesar abad ke-20.
Tiap orang dilahirkan menjadi sukses. Tinggal bgm masing2 dari kita u/ tetap belajar dan punya sikap percaya diri serta rendah hati sekaligus. Dua sikap terakhir a/ pembentuk kecersasan spiritual spt yg dituangkan o/ Tony Buzan dlm bukunya Brain Child.
Dalam menempuh S1, kita mengalami budaya perkuliahan, membuat paper, tugas2 yg lumayan banyak, birokrasi kampus, diskusi dg dosen, perbaikan skripsi yg terjadi berkali2 (sampe bosen dech ..). Itu semua membuat kita kuat. Baik dlm bidang tata bahasa, ejaan, komunikasi, lembur, persaingan, etc.
Jadi, bagi teman2 yg sedang menempuh S1, congratulation !!! Anda a/ orang yg beruntung. Bersyukurlah bahwa anda bisa kuliah. Berlega hatilah melihat wajah gembira kedua orang tua anda waktu anda diwisuda.
salam sukses,
Jana
http://www.miss-jana.org
Mbak Jana: Aduh ulasan nya sunggu menarik hati dan menggembirakan membaca tulisan mbak. Betapa benarnya itu mbak. Saya suka ucapan mbak mengenai: Setiap orang dilahirkan untuk sukses! we are born to win. Tinggal bagaimana masing masing dari kita untuk tetap belajar dan punya sikap percaya diri dan rendah hati sekaligus. Bagus sekali mbak.
Ya, bagi teman teman yang sedang menempuh S1, anda adalah orang yang beruntung, bagi yang tidak, anda juga masih beruntung, mengetahui anda masih hidup, dan bahwa setiap dari kita dilahirkan sebagai seorang juara saja sudah merupakan sebuah keberuntungan ( mengalahkan banyak sekali calon bayi yang lain waktu perlombaan sperma ).
Saya ingat sekarang salah satu motivator terbaik di Indonesia, Andrie Wongso, yang SDTTB, Sekolah Dasar Tidak Tamat Tapi Bisa Sukses. Jadi yang cuman sekolah dasar pun, asal bisa baca dan bisa tulis, anda sudah mempunyai modal yang sangat layak untuk sukses seperti Andrie Wongso, bahkan beliau pernah menjadi Bintang Film, pengusaha kartu ucapan ” Harvest ” dan motivator terkenal di Indonesia, saat ini beliau seorang penulis banyak buku motivasi dan sikap yang bukunya bisa didapat di Gramedia.
Benar yah mbak yah? Salam!
Dear Kus,
Benar sekali!
Buku Brain Child itu luar biasa. Bagi kita orang dewasa pun patut u/ baca. Dan praktekkan. Bukan hanya membuat anak pintar. Orang tua pun jadi pintar.
Rumah a/ lembaga pendidikan terbaik dan utama bagi penghuninya.
cheers,
Jana
http://www.miss-jana.org
Pak, andai pada waktu itu pak Kus bisa mendapatkan gelar sarjana S1, kemungkinan saat ini pak kus sedang menjadi karyawan di sebuah perusahaan.. dan kehidupan pak kus tidak bisa sebebas seperti sekarang, karena mesti tiap pagi berangkat kerja dan sore pulang kerja.
Tetapi karena pak kus tidak menyelesaikan S1 nya, maka sekarang pak kus punya banyak kebebasan waktu dan punya banyak penghasilan yang jauh lebih besar dibandingkan hanya menjadi seorang pegawai atau karyawan lulusan S1..
jd menurut saya, dengan tidak selesaiya kuliah pak kus, ini merupakai berkat yang tersembunyi. kita mesti berprasangka baik pada Tuhan.. Tuhan punya tujuan baik untuk kehidupan kita
Saya jg sama seperti pak kus, saya tidak menamatkan kuliah di jurusan teknik dan management industri ITB – Bandung ..
Hi Herman, Terimakasih sangat buat masukannya. Sikap empati yang sangat besarlah yang membuat Herman selalu dapat memberikan masukan yang berharga dan berkualitas. Betapa beruntungnya saya punya sahabat seperti Herman!
Ya, kini saya sadar, bahwa dibalik kejadian apapun yang kita manusia alami, tentu ada maksud atau sesuatu pelajaran baik yang bisa diambil, seperti dikatakan: semua yang baik ada di balik kejadian baik yang positif sekalipun yang kelihatan nya negatif. Tentu ada maksud yang baik buat saya terlepas saya menyelesaikan kuliah atau tidak.
Wah kita banyak kesamaan nih pak Herman, sama sama nggak tamat. :p Mari kita maju terus dan mewujudkan apa yang kita cita cita kan, tanpa menengok kebelakang tentang apa yang tidak kita punya melainkan menengok kebelakang mengenai apa yang sudah kita punya dan memaksimalkannya.
Dear Pak Herman,
Salam kenal.
Tulisannya sangat bagus ya. Saya terkesan dengan “jd menurut saya, dengan tidak selesaiya kuliah pak kus, ini merupakai berkat yang tersembunyi. kita mesti berprasangka baik pada Tuhan.. Tuhan punya tujuan baik untuk kehidupan kita
”
Tuhan memang selalu mempunyai rencana yang bagus buat kita. Dan sering sekali kita tidak menyadarinya. Kita melewatkan berkat yang diberikanNya. Yang pada akhirnya membuat kita tersesat.
Saya mempunyai pengalaman dimana saya diberikan mengelola sebuah usaha oleh teman saya. Padahal saya sudah mempunyai usaha sendiri. Setelah seminggu saya jalani, ternyata tidak begitu berhasil.
Karena saya sedang berlatih untuk merasakan berkat-berkat Tuhan, saya mendengar Tuhan berkata bahwa usaha itu bukan rejeki saya. Jadi sebaiknya saya kembalikan saja. Akhirnya saya kembalikan.
Nah setelah itu, usaha saya mulai berjalan kembali. Banyak inspirasi, urusan administrasi juga lancar, ada waktu luang untuk nge-blog, kenalan dengan Pak Herman, dsb.
Jadi intinya, Pak, kita harus banyak-banyak bersyukur …..
cheers,
Jana
http://www.hotelubudbali.com
Nice thought Mbak Jana. Thanks sharingnya. Setuju mbak untuk segala sesuatunya kita pantas bersyukur, karena selalu ada sesuatu yang lebih baik yang Tuhan akan berikan kepada kita, seperti dikatakan, ketika Ia akan memberi hadiah kepada kita Ia tidak membungkusnya dalam talam perak melainkan Ia membungkusnya dalam masalah dan problema. Dari sana akan tampak karakter asli dari diri manusia itu.
Nice posting mbak!
Salam Kenal buat Pak Herman dan Mbak Jana,
Pertama thanks buat Pak Kusuma ( teman lama saya/pernah seperjuangan )
Membaca opini dari teman-teman tentang
’sekolah (s1) dengan yg tidak menyelesaikan pendidikan S1 ‘ membuat saya tertarik untuk sedikit memberi komentar .
Maaf nama panggilan saya JOS …saya juga salah satu orang yg tidak sempat menyelesaikan pendidikan S1(Ekonomi Manajemen) saya di sebuah PT di Surabaya,namun hal ini tidak membuat saya berkecil hati didalam menghadapi tantangan hidup ,terutama menjadi manusia yg berguna bagi keluarga,sesama dan Negara kita Indonesia.
Ada kata-kata bijak yg pernah saya dapatkan dari teman…bahwa ” yang menentukkan besar kecilnya hasil sebuah ladang/sawah 80 % bahkan 90 % tergantung PETANI yg mengelolanya ” bukan bergantung pada lahan maupun alat yg dipakai.
Mungkin sama halnya hidup kita di dunia ini,yg mana kita adalah ” PETANINYA ” dan oleh Tuhan kita diberikan ladang – ladang yg tidak terbatas luasnya untuk kita garap/olah dengan perlengkapan yg telah Tuhan siapkan/berikan kepada kita sejak kita ditenun/dibentuk didalam rahim ibu kita.
kembali pada Pendidikan, memang pendidikan sangat penting untuk melatih/membentuk bagaimana kita bekerja dan berpikir ( Ulasan Mbak Jana) bahkan sangat penting buat anak-anak sejak mulai mengenal dunia yg fana ini.
Namun menurut saya , Pendidikan ( S1 ) hanya sebagai Fase Formal ( kalau bisa saya katakan Alat ) yg membawa manusia untuk dapat bekerja lebih baik sebelum seseorang terjun didalam dunia kerja/usaha.
Pengalaman Saya ;
Sungguh sangat menganggetkan saya ketika saya putus kuliah ( karena saya kerja sambil kuliah ) dan mulai berusaha sebagai seorang salesman freelance di sebuah perusahaan asing…hampir bisa dibilang ilmu yg saya dapatkan di pendidikan S1 mungkin hanya 10 % saja dipakai. Artinya pendidikan kita di tingkat PT (sampai saat ini..menurut pengamatan saya ) masih sangat terkebelakang (khususnya untuk ilmu Ekonomi Manajemen).
Dari seorang Sales Freelance karier saya menanjak sampai sebagai seorang Managing Director di sebuah perusahaan dan sebagai seorang Trainner di beberapa perusahaan National dan Asing yg ada di Indonesia.Dan sekarang udah hampir 4 tahun saya berwirausaha sendiri ( sekalipun ada jatuh bangunnya ) namun hasilnya jauh lebih baik dari pada teman-teman yg bertitel S1 ( topik kita )
Akhir kata ,saya menghargai pendidikan jenjang S1 namun yg terpenting adalah PETANINYA .
terima kasih semoga opini saya ini dapat diterima. God Bless All
Waduh… masukan yang sangat BERHARGA sekali pak Joseph.
Bapak langsung ke pokok masalah yaitu yang terpenting adalah petaninya.
Saya sangat setuju dengan opini pak Jos diatas, apalagi bapak adalah saksi hidup, bagaimana bapak menaiki jenjang karir dengan sangat baik sampai sekarang usaha sendiri, yang mana bapak Juga tidak menyelesaikan pendidikan S1nya.
Semoga dengan membaca opini bapak, saya dan Herman, yang tidak menyelesaikan S1 kami, serta teman teman yang lain, bisa berbangga bahwa apa yang sudah kita miliki ditangan kita sudah cukup. Masalahnya adalah mau jadi petani seperti apa kita yah pak?
Semoga kita semua bisa terus belajar tanpa henti di sekolah kehidupan dan bisnis, dimana ini menurut saya adalah sekolah yang sebenarnya, dan menjadi pengelola pengelola sawah kehidupan berkeluarga, berbisnis, dan berbangsa, menjadi PETANI yang HANDAL kayak pak Joseph.
Welcome Mr Joseph!
Dear Pak Joseph,
Salam kenal ya, pak! saya Herman dari jkt utara
Saya sangat sependapat dengan pak Jos.
Terimakasih banyak atas ilmu PETANI dan lahanya. Sungguh ini menambah wawasan baru lagi buat saya. Terimakasih!
Saya terinspirasi oleh pak Kus, sekarang sedang belajar menuangkan ide lewat tulisan di blog.
ini blog saya: http://suhermanfx.multiply.com
jika pak Jos sedang senggang, silakan mampir ke blog saya .. hehehe
salam kenal,
Herman
Dear Pak Joseph,
Salam kenal kembali. Membaca kisah bapak yang baru sekelumit itu, saya merasa sangat bangga bahwa ada banyak putra bangsa ini yang berprestasi luar biasa, walaupun tidak menamatkan S1.
Pekerjaan yang saya tekuni saat ini juga bukan merupakan pendidikan S1 saya. Dan saya sangat menikmatinya walaupun saya harus belajar dari nol. Hidup ini sebenarnya adalah sekolah kita. Dan bagaimana kita bisa mengambil pelajaran darinya adalah tergantung kemampuan kita masing-masing.
Setiap orang dilahirkan dengan jumlah sel otak yang sama yaitu 1 trilyun. Menurut ahli psikologi dari Inggris, Tony Buzan, otak mempunyai 1.000.000.000.000 sel otak yang disebut neurons. 100.000.000.000 merupakan sel yang aktif di mana setiap sel bisa membuat 20.000 koneksi yang berbeda dengan sel lainnya. 900.000.000.000 sel yang lainnya melindungi serta memberi makan sel-sel yang aktif.
Sel-sel yang aktif sejumlah 100.000.000.000 harus mendapat stimulasi sejak anak usia dini. Dengan banyaknya stimulasi akan terbentuk banyak koneksi antar sel. Semakin banyak koneksi semakin bagus. Bahayanya jika ada sel-sel otak yang tidak terkoneksi, akan menjadi mati. Bukankah hal ini tidak anda inginkan?
Sedangkan sel lainnya sejumlah 900.000.000.000 harus mendapat cukup nutrisi dari ASI, makanan serta minuman bergizi untuk perkembangan otaknya. Jadi, kedua macam sel otak ini saling terkait. Tidak bisa berdiri sendiri.
Nah, jangan kecewa dulu karena kita bukan anak-anak lagi. Kita bisa membentuk kembali koneksi antar sel otak dengan terus-menerus belajar. Cobalah menjadi seorang bayi yang harus belajar segala hal untuk bisa mandiri, yang selalu mengeksplorasi apa yang ada di sekitarnya. Saya telah menerapkan hal ini, dan WORTH IT!
sincerely yours,
Jana
http://www.miss-jana.org
“…dosen nya jarang datang…”
“…dikatakan nya…”
Apakah ini tata bahasa cybernet?
Dosen nya…sar, kali ya. Dikatakan nya…nyi kali ya.
he he he…
Hai Elsi,
Thanks masukannya yang sangat berharga yah, benar sekali Elsi, seharusnya kata dasar dengan akhiran “nya” harus disambung. Itu benar sekali.
Bukan, itu bukan bahasa cybernet, apa yang saya tulis diatas adalah: bahasa Indonesia sehari-hari.
Elsi benar, saya diingatkan kembali untuk “Gunakanlah Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar!”
Kedepan saya akan sambungkan penggunaan kata dasar dengan “nya”. Terimakasih bu Guru Elsi!
Thanks masukannya dan sudah mampir ke blog saya El, anything Else Elsi?
Mantap…!
Hi Pak Admin, you are not only smart but also humble.
Iya ada lagi usulan. Minta permisi dulu. Intinya, selain kiat2 yang saya baca di kerjakeras, penerapan tata krama etiket bisnis, etiket santa menyantap, etiket komunikasi dewasa, etiket komunikasi remaja, etiket telepon menelepon. Yang utama menurut saya dalam setting bisnis adalah dua butir yang pertama saya sebut di atas. Contoh2 keciiil: 1)cara memberikan kartu bisnis harus dengan dua tangan dan tulisan di atas kartu harus dihadapkan kepada penerima, pastikan penerima menerimanya dengan baik. Saat Anda terima kartu bisnis, Anda harus baca isinya di depan penerima, tidak bisa langsung disimpan. 2) Saat mengunyah makanan: mulut harus tertutup dan tidak boleh bunyi, chak..nyap..cak..ccak… Sangsinya? Sangsi sosial saja, yang tadinya mesti dapat order, tau2 tak jadi… Koq gitu? Walaupun hal2 kecil tetapi selalu punya makna yang besar. Baca saja cerita mengenai Henry Ford pencipta mobil Ford Model-T pada awal abad lalu, ataukah abad yang sebelumnya? lupa tuh…
Udee yeee, balik kerja.
)
Hi Elsi,
Thank you for your nice compliment!
Terimakasih masukannya. Betapa benarnya apa yang Elsi sampaikan. Saya sungguh BERUNTUNG ada yang mau menyampaikan sejujurnya apa yang saya masih kurang.
Kebanyakan, saya hanya mendapatkan pujian saja, padahal dengan sebuah masukan berharga seperti yang Elsi berikan, saya menjadi tahu, bahwa jika saya mau menjadi semakin maju, maka saya harus mau memperhatikan hal-hal yang kelihatannya kecil namun efeknya bisa sangat besar dalam jangka panjang. Saya harus mau belajar lagi dan berubah. Bukankah dengan demikian saya akan semakin menjadi benar mbak?
Saya sangat setuju dengan Elsi, bahwa etiket itu adalah hal yang patut dijunjung tinggi apalagi kita dengan adat ketimuran, yang sangat menjunjung tinggi etiket dan sopan santun.
Masakan iyah sih kita nggak perhatian dengan nilai-nilai tata krama yang begitu patut dibanggakan yang kita punya seperti yang Elsi sampaikan diatas. Kesemuanya adalah penting.
Jika saya menerima kartu nama, maka saya pastikan saya akan terima dengan posisi dua tangan memegang kartu nama, dengan posisi nama menghadap kedepan, dan saya akan tatap matanya dengan say: Thank you! Baru saya akan masukkan ke kantong saya. Demikian juga jika saya makan, saya akan pastikan tidak ada kecapan: ” Nyam Nyam Yummy, disana ”
Thanks sekali lagi, saya akan mencamkannya, dan saya akan perbaiki apa yang saya bisa perbaiki seketika kemaren, dan ada lebih banyak lagi kedepannya!
Mantap.. !
Hello Pak Admin, semangat sekali. Kalau mau tau lebih banyak kunjungi http://www.ryangrpine.com.
Ini beberapa contoh Q & A khusus saat santap menyantap. Duh banyak aturan, saat tepat untuk minum dan cara menempatkan serbet saat kita beranjak dari tempat duduk saja pakai aturan segala, saya kutip:
1.Q. Is it considered rude to take a sip of your drink while still chewing?
A.It is considered good manners to wait until you have finished chewing and have swallowed your food before taking a sip of your beverage.
2.Q. Where do I place my napkin when briefly excusing myself during the meal?
A. Place your napkin on the chair when excusing yourself during the meal as it is not appropriate to place a soiled napkin on the table while people are still eating. At the completion of a meal, carefully place the napkin at the left of your place setting or if the plates have been cleared, place the napkin in the center without actually refolding to original state.
Stay tuned, Elsi
Thanks Elsi,
Waduh perhatian banget, sampai di copy pastein disini. Btw, kok nggak isa dibuka sih alamat websitenya Mbak? coba di cek lagi apa ada yang kurang atau malah lebih disana?
Waduh mbak, kalau gini caranya, saya nggak perlu ikutan John Robert Power lagi saya dah bisa belajar sendiri, lewat masukan mbak dan website yang mbak kasih!
Thank you and Dahsyat!
PS: saya sangat yakin, jika ketemu, saya akan menyaksikan seorang wanita, dengan pakaian yang sangat sopan, sikap yang excellent dan very neat and good looking!
How do I know it? from what you have shared with me! Am I correct, Miss Sweety?
Hello, hello, bisa jadi karena ada titiknya pada alamat webnya — mungkin loh. I checked and it’s correct.
Hm…rasanya jawabannya Pak Admin, 10 Maret, di atas ada yang beda, apa saya salah liat saja. Banyak kerjaan, jadi rada linglung, dan tetap berterima kasih kepada TYME.
Selamat KE2 (KErja KEras).
Hai Elsi,
Yah emang ada titiknya, dah dihilangkan sih, tapi tetap aja nggak bisa. Coba deh kalau ada teman-teman lain yang coba buka alamat ini bisa nggak? http://www.ryangrpine.com/
In my browser sih nggak isa, saya pakai mozilla firefox.
10 Maret tuh apa yah?
hehehe, nggak ngerti. Coba dipasang kacamatanya, ada yang salah nggak? rasanya biasa-biasa aja deh.
Kerjaan apa mbak? lebih asyik mana sama ngeblog?
Thanks nih sedang keker sekarang!
Halo Pak Kusuma,
Saya sedang mencari artikel tentang kuliah dan kesuksesan, dan ternyata saya terdampar di sini
O ya, sebagai tambahan, yang masih kuliah jangan hanya pandai teori saja, ya. Jadi ingat kata Ir Ciputra, kalau orang pintar itu ada dua; pintar menghafal dan pintar kreatif. Nah, Pak Ciputra ini pintar karena kreatif, maka dari itu beliau bisa sukses seperti sekarang.
Salam,
Elsa
http://inspirasi-motivasi.blogspot.com
Hai Elsa,
Surprise banget! Saya sudah berkunjung ke blog dan website penjualannya. Bagus! Unik sekali, belum banyak yah yang membahas mengenai motivasi dan kesuksesan!
Elsa benar, kita mesti kreatif yah, nggak cuman pintar teori. Setuju!