Hari ini saya membaca di koran Bali Post, Tentang Diskusi Bertema: Mengajegkan Bali. Buat Anda yang bukan orang Bali, apa ajeg itu? ajeg adalah melestarikan. Jadi “Melestarikan Bali”.
Saya sangat tertarik dengan ulasan di BP itu, BP adalah koran terbesar di Bali, apa yang menarik? baca terus!
Dari 3 nara sumber, salah satunya adalah Bapak Gubernur Bali, Mangku Pastika, mengatakan bahwa dari besaran wilayah Bali sangat kecil, karena hanya 0.29 dari wilayah Indonesia. Bahkan Bali tidak punya sumber daya alam seperti minyak bumi, Bali hanya punya galian C yang sangat potensial merusak Bali jika dieksploitasi secara berlebihan.
Sampai disini, anda bisa bayangkan posisi bali di Indonesia. Sebuah pulau kecil dengan tanpa sumber daya alam. Ya saya setuju bahwa Bali memang bagaikan gadis cantik di mata dunia… tetapi apa yang disampaikan pak Mangku Pastika diatas, bukanlah sebuah kritikan, tetapi kesadaran, faktanya memang demikian.
Nah justru karena posisi bali itu, beliau memberikan solusi bahwa satu-satunya yang harus ditingkatkan justru adalah Sumber Daya Manusianya (SDM). Sampai disini anda tentu setuju kan, jika SDA tidak punya, maka yah SDM harus ditingkatkan terus. Apalagi kita tahu negara seperti Singapura/Jepang bisa dikatakan juga sama, sebuah negara kecil (singapura) dan tidak punya banyak SDA (Jepang) namun sangat MAJU.
Bagaimana bisa begitu? karena mereka memaksimalkan SDM nya. Orang-orang Jepang juga Singapore memiliki daya saing tinggi di dunia. Mereka kreatif, pekerja keras, smart, dan pendidikan di kedua negara itu tidak kalah dengan negara manapun di dunia. Standard mereka tinggi, bahkan di olahraga pun Jepang banyak melahirkan juara-juara dunia.
Nah bagaimana dengan Bali?
Bagaimana dengan Indonesia, konteks yang kita bicarakan adalah tentang “melestarikan Bali” jadi ijinkan saya melanjutkan. Pak Mangku mengatakan: “SDM Bali itu harus berkarakter kuat, memiliki sradha dan bhakti kepada Tuhan, berdisiplin tinggi, ulet, tidak cengeng, dan tidak mudah menyerah.
Betapa benarnya hal tersebut… sebagai negara berke-Tuhan-an YME tentu saja, manusia Bali perlu mendepankan hal tersebut sebagai yang terutama, lalu, displin tinggi, ulet, tidak cengeng, dan tidak manja/mudah menyerah.
Jika kita amati, sebenarnya karakter jenis itu bukan hanya penting untuk masyarakat Bali semata, tetapi seluruh Indonesia. Namun ingat topiknya: “melestarikan Bali”
Lalu: Tidak kalah pentingnya, manusia Bali harus hemat dan tidak menghambur-hamburkan sumber daya, berani dan memiliki kepercayaan diri yang mantap serta jujur.
Hem, benar sekali yah, hemat, ini penting sekali, kalau tidak hemat bagaimana bisa kaya? kalau tidak hemat maka tidak pandai menyisihkan dana untuk investasi, nanti masa tuanya bisa terlunta-lunta. Kalau foya-foya, maka biasanya semua sumber daya juga kedodoran. Misalkan sumber daya waktu, tenaga, dll.
Foya-foya dan manja mencerminkan sebuah sikap mau enaknya saja, dan ini tentu pantang untuk masyarakat yang ingin berkembang dan berdaya saing.
Lalu dikatakan: “Dari semua kriteria itu, mayoritas manusia Bali tak pede, tidak berani TAMPIL di depan, dan cenderung penakut.
Hahaha, saya nggak bisa lebih setuju lagi disini. Benar sekali, selama 5 tahun ngajar di sekolah Internet disini, saya banyak melihat bahwa teman-teman di Bali, itu memang cenderung “low profile”, rendah hati (apakah nggak pede?) dan cenderung menghindari tampil di depan, apalagi memberikan suara di depan.
Hem.. di Bali ada istilah: “Banyak Orang Bali itu Koh Ngomong” maksudnya mereka memang secara alami cenderung diam, damai, sabar, dan agak kurang leluasa menyampaikan pendapat apalagi berbicara di depan umum. Ya, ternyata pak Gubernur sangat jeli melihat hal tersebut, dan memang itu harus di tingkatkan.
Lalu: Self Confidence yang rendah ini turut andil dalam mengerdilkan manusia Bali dalam memenangkan persaingan di tingkat nasional, regional dan Global.
Kalau kepercayaan diri tidak ada, bagaimana bisa eksis dan survive dalam persaingan global yang semakin ketat. Ya tergilas sendiri kita, katanya mengkritisi.
Wow.. menarik sekali bukan, tepat sekali, persaingan lokal, apalagi persaingan International, kalau masyarakat bali tetap dengan gaya lamanya, maka memang sulit diharapkan bisa bersaing secara lokal aja dulu deh.
Jadi masyarakat bali memang harus bekerja keras, ulet, hemat, tidak menyia-nyiakan semua sumber daya, dan harus pede. Harus mulai buka suara, tingkatkan kemampuan komunikasi. Sehingga bukan cuma alamnya saja yang indah, budayanya yang sangat menarik dan dalam, tetapi kualitas sdm nya pun hebat dan bisa bersaing secara nasional dan international.
Semoga lewat nasehat dari bapak Gubernur, masyarakat Bali mulai sadar, bahwa nggak bisa terus-terusan begitu, masyarakat Bali harus dan perlu berubah, jika tidak ingin terlindas. Lakukan saja apa yang disarankan oleh Pak Gubernur diatas, dan saya yakin masyarakat Bali akan semakin cantik dan berjaya.
Maju terus Bli and Gek!


Saya Kusuma Putra, Sudah Menjalankan Bisnis Online Selama Lebih Dari 5 Tahun Terakhir.. Saya yakinkan ada banyak yang bisa anda pelajari. Di Berbagai Halaman yang ada... dan juga berbagai link tautan di bawah ini. Silahkan check juga produk yang saya rekomendasikan! Salam Bisnis Online!

Jadi masyarakat bali memang harus bekerja keras, ulet, hemat, tidak menyia-nyiakan semua sumber daya, dan harus pede. Harus mulai buka suara, tingkatkan kemampuan komunikasi. Sehingga bukan cuma alamnya saja yang indah, budayanya yang sangat menarik dan dalam, tetapi kualitas sdm nya pun hebat dan bisa bersaing secara nasional dan international.
Sepertinya hal tersebut tidak hanya dialami Bali saja, selain SDA, hampir semua daerah di Indonesia SDM-nya memang cukup rendah. Jika kemudian Bali merasa “minder” karena orang Bali jarang tampil ke depan, hal tersebut hanya karena kebetulan saja orang dari daerah lain cukup terekspos ke masyarakat sebagai tokoh yang penting di negeri ini. Pada kenyataannya jika Si A orang yang sangat terkenal dan hebat di negeri ini, namun di daerah asalnya masih kualitas SDM-nya masih rendah. Bukankah Bali juga banyak menelurkan orang2 hebat seperti Pak Gubernur Mangku Pastika, Bli Dewa Bujana, Pak Gede Prama, Om Ade Rai dan banyak yang lainnya termasuk Pak Kusuma?